Ekonomi Indonesia sangat berkembang, dan diprediksikan tahun ini mencapai puncakknya. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings (Fitch) memproyeksi ekonomi Indonesia bakal tumbuh di angka 5,3% di tahun 2018. Meskipun ada sejumlah tekanan dari faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga the Fed Amerika Serikat (AS) yang diprediksi terjadi empat kali sepanjang tahun ini, namun daya tahan Indonesia terhadap faktor eksternal dipercaya semakin baik dari tahun ke tahun.
Dalam laporannya, Fitch menjelaskan, hal tersebut terlihat dari performa ekonomi Indonesia di akhir 2017 yang menunjukkan perkembangan dari sisi investasi. Secara keseluruhan sepanjang 2017, investasi berhasil tumbuh 6,2% atau tercatat sebagai pertumbuhan investasi yang paling tinggi sejak 2012.
Investasi sendiri mendapatkan dukungan dari pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan yang tercatat makin banyak yang rampung sejak awal 2016.
"Kami berharap investasi terus bisa terakselerasi, yang didukung oleh kebijakan-kebijakan makro pemerintah. Pemerintah berkomitmen untuk menaikkan belanja infrastruktur di masa mendatang, khususnya dari BUMN-BUMN yang ada, di saat dukungan dari pelonggaran kebijakan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga dua kali pada tahun lalu," tulis laporan tersebut.
Sejumlah pelonggaran kebijakan makroprudensial dari Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga turut mempengaruhi perbaikan ekonomi makro, contohnya menaikkan rasio loan to value (LTV) untuk sektor properti.
Konsumsi rumah tangga memang gagal mengakselerasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu meski inflasi ternyata berhasil ditekan, pertumbuhan jumlah tenaga kerja. Konsumsi rumah tangga hanya berhasil tumbuh 5% di tahun lalu atau sama dengan angka di tahun 2016. Namun demikian, kenaikan pada impor barang konsumsi pada kuartal terakhir tahun lalu memberi tanda adanya peningkatan konsumsi dalam negeri setelahnya.
Dengan sejumlah fakta tadi, Fitch memproyeksi inflasi Indonesia tahun ini akan berada di angka 4,2% dari level 3,2% yang ada saat ini. Peningkatan inflasi tersebut disebabkan oleh karena adanya peningkatan ekonomi. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksi akan berada pada kisaran Rp 13.650.
Sementara itu, presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo mengatakan "Sekarang cadangan devisa kita pada posisi US$ 130 miliar, juga tertinggi sepanjang negara ini berdiri. Berkaitan dengan IHSG yang orang dulu khawatir apakah 2017 akan tembus 6.000 semua orang bilang enggak mungkin tembus, tapi kita lihat hari ini sudah di posisi kisaran 6500. Pada saat ini juga beberapa daerah sudah mengalami dan merasakan kenaikan harga batubara, harga CPO kelapa sawit, dan saya lihat provinsi yang memiliki kekuatan komoditas ekonominya dulu 2% sekarang sudah 5%,".
Sementara itu Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyampaikan, bahwa masalah yang masih menghambat investor menanamkan modalnya di Indonesia adalah dari proses perizinannya sendiri. Padahal, ribuan investor sudah di depan gerbang.
“Indonesia merupakan pasar ekonomi yang potensial di Asia. Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berada pada peringkat 15 dalam perekonomian dunia. Berdasarkan sumber dari PWC, Indonesia berada di peringkat ke-4 dalam perkembangan infrastruktur,” katanya.
Dia menegaskan Indonesia masuk dalam tiga besar negara tujuan investasi yang menarik di Asia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi dan stabil mencapai 5,4% pada 2018.
Hingga saat ini, realisasi investasi United Arab Emirates di Indonesia berada di peringkat ke-27, yang meliputi sektor pertanian, perhotelan, transportasi, kawasan industri, dan telekomunikasi.
Saat ini terdapat 19 sektor yang dapat dikerjasamakan Pemerintah Indonesia melalui skema KPBU, meliputi: sektor konektivitas, perkotaan, dan sosial.
Kementerian PPN/Bappenas telah menginisiasi terbentuknya Kantor Bersama KPBU sebagai one stop service dan menjadi forum koordinasi antar pemangku kepentingan KPBU di tingkat pemerintah pusat yang beranggotakan tujuh Kementerian/Lembaga.
“Diharapkan melalui alternatif skema pembiayaan KPBU dan PINA, gap pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia dapat dipenuhi,” jelas Bambang.





